beli rumah atau tanah

Hal yang sering kita hadapi ketika ingin investasi di sektor properti adalah dilema antara beli rumah atau tanah (yang dimaksud rumah dalam artikel ini termasuk apartemen). Ini wajar mengingat keduanya bukanlah barang murah yang ketika kita salah beli kita bisa beli lagi sesukanya. Salah beli maka dapat membuat sakit kepala, terlebih lagi jika dana yang kita pakai adalah keseluruhan dana hasil kerja keras yang telah kita kumpulkan selama ini.

Ada banyak faktor yang akan mempengaruhi keputusan dalam menentukan mana yang lebih cocok untuk anda antara beli rumah atau tanah. Tanpa basi basi mari langsung kita kupas tuntas apa saja faktor – faktor tersebut.

Faktor – Faktor yang Mempengaruhi dalam Beli Rumah atau Tanah

1. Kegunaan / Kebutuhan

Hal terpenting yang harus jelas sebelum beli rumah atau tanah adalah untuk apa properti tersebut. Jawaban pertanyaan ini akan sangat menentukan, apakah akan kita tinggali, kita sewa kepada orang lain, atau untuk investasi ?

Jika dalam waktu dekat kita berniat menempati maka sudah jelas pilihannya adalah beli rumah. Banyak kita temukan kenapa orang pilih beli rumah adalah untuk berhenti ngontrak, ingin mandiri dari orang tua atau mertua dan persiapan tempat tinggal sebelum menikah. Namun jangan salah, alasan tersebut juga dapat dijadikan faktor dalam pembelian tanah. Hanya saja jika kita membeli tanah untuk kita bangun sendiri maka akan memakan waktu. Putuskan jangka waktu pemakaian aset tersebut apakah akan segera digunakan atau masih lama.

Kalau target kita adalah untuk disewa maka pilihan jatuh pada beli rumah. Kita akan mendapatkan keuntungan dari harga sewa dan kenaikan harga properti. Andai untuk investasi, bisa pilih salah satu karena dua – duanya adalah investasi yang menjanjikan. Jika kita putuskan beli tanah dan belum akan digunakan dalam waktu dekat maka sebagai alternatif dapat digunakan untuk bercocok tanam sambari mengumpulkan uang untuk modal bangun nantinya.

2. Lokasi

Tidak kalah penting adalah mempertimbangkan lokasi properti yang akan kita beli. Rata – rata ketika bicara soal beli tanah yang kita maksud adalah tanah kavling. Umumnya lokasi tanah kavling jauh dari keramaian karena jika berada di tengah kota maka harganya sudah pasti tidak bersahabat. Sebelum beli tanah kavling harus menganalisa apakah daerah atau kawasan tanah yang akan dibeli prospektif (potensi berkembang) atau tidak. Jangan langsung tergiur dengan tanah yang luas dan harganya murah tapi lokasinya tidak hidup atau lama berkembang.

Rata – rata ketika bicara soal beli rumah yang kita maksud adalah perumahan. Jarak antara kawasaan perumahan dan pusat keramaian jelas lebih dekat jika dibandingkan dengan tanah kavling. Logikanya jika pengembang perumahan membangun ditempat yang sepi atau jauh, tidak akan ada orang yang beli.

Gambar oleh Steve Buissinne dari Pixabay

3. Fasilitas Umum (Fasum) dan Fasilitas Sosial (Fasos)

Setelah mensurvey lokasi properti, ada baiknya kita luangkan waktu sedikit untuk melihat – lihat fasum dan fasos di sekitar lokasi. Disini ada dua hal yang harus diperhatikan. Pertama, lihat apa saja fasum dan fasos yang ditawarkan pengembang. Kedua, ketahui apakah jarak tempuh lokasi berdekatan dengan fasum dan fasos dari pemerintah seperti pasar tradisional, sekolah, puskesmas atau rumah sakit. Akan sangat tidak nyaman dan memakan waktu jika jarak tempuh dari properti ke sarana umum jauh. Jadi akan sangat bijak sebelum beli rumah atau tanah kita melihat sekeliling lokasi.

4. Desain dan Kualitas Bangunan

Baik beli rumah atau tanah bergantung dengan kepribadian masing – masing orang. Ada orang yang tidak mau repot, ketika sudah menentukan daerah lokasi yang ingin dibeli tinggal memilih properti – properti yang ada di lokasi tersebut. Namun ada juga yang punya hobi atau berkeinginan untuk memiliki rumah idaman sesuai dengan seleranya.

Jika tidak ingin repot maka pilihan jatuh kepada beli rumah. Beli rumah second atau rumah baru di perumahan maka untuk desain dan kualitas bangunan ditentukan pengembang. Umumnya gambar desain dan spesifikasi bangunan sudah tercantum di brosur penjualan.

Kalau kita ingin mendesain sendiri rumah kita kelak, maka pilihan jatuh kepada beli tanah. Kita dapat menentukan sendiri tampak depan yang kita inginkan dan bahan bangunan yang akan digunakan untuk membangun rumah tersebut.

5. Harga

Satu hal yang sudah pasti muncul pertama kali di pikiran ketika ingin beli rumah atau tanah adalah harga. Tentunya kita ingin beli properti yang sesuai dengan isi kantong kita.

Jika beli rumah subsidi, anda tidak perlu khawatir karena pemerintah sudah menentukan batas harga rumah tiap tahunnya dan skema angsurannya tetap tiap tahunnya (asumsi kredit menggunakan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP)). Mau lokasi perumahan jauh atau dekat, harga rumah subsidi tetap sama. Namun pengembang dapat memberikan potongan harga jika lokasi perumahan yang dibangun jauh.

Andai beli tanah, maka harga ditentukan berdasarkan lokasi. Lokasi jauh maka harga akan murah dan sebaliknya.

Gambar oleh Nattanan Kanchanaprat dari Pixabay

6. Luas Lahan & Kerapian Kawasan

Kelebihan beli tanah dibanding perumahan adalah luas lahan. Luas Tanah kavling yang kita beli sudah pasti lebih besar dibandingkan luas tanah dari perumahan.

Namun jika ada kelebihan maka juga ada kekurangan. Kekurangan beli tanah adalah masalah kerapian kawasan. Kawasan perumahan sudah tentu lebih rapi dibanding kawasan tanah kavling. Setelah perumahan habis terjual, maka logikanya orang – orang yang tinggal dalam perumahan akan gotong royong merawat kawasan perumahan. Beda halnya dengan kawasan tanah kavling yang dalam jangka panjang akan menjadi semak belukar karena belum ada atau sedikit yang tinggal.

7. Resiko Legalitas

Setiap pilihan yang kita buat pasti mengandung resiko. Baik beli rumah atau tanah harus memperhatikan kejelasan pengembang. Resiko utama yang kita maksud disini adalah legalitas pengembang.

Menurut pengalaman kami sebagai salah satu pengembang perumahan di Jambi, untuk membangun suatu proyek perumahan haruslah berbadan hukum minimal CV (Persekutuan Komanditer). Selain itu pengembang diharuskan mengurus berbagai macam izin sebelum dapat membangun termasuk menyediakan atau berkontribusi untuk tanah makam. Setelah proses pembangunan selesai, maka kita sampai pada tahapan akad kredit dimana kepemilikan rumah akan berganti ke konsumen melalui bank. Meskipun tetap ada resiko bertemu dengan pengembang yang bankrut atau nakal, namun resikonya cukup kecil apalagi jika dibandingkan dengan pengembang tanah kavling, mengingat banyaknya tahapan yang harus dilalui sebelum dapat menjual rumah.

Yang membuat pengembang tanah kavling lebih beresiko ialah tidak adanya tahapan – tahapan yang menjadi syarat membangun proyek perumahan. Pengembang cukup memecahkan sertipikat induk menjadi satuan kavling. Pembelian pun tidak bisa dilakukan via bank yang artinya kita mencicil langsung ke si pengembang tersebut. Ditambah lagi surat atau dokumen yang kita pegang sebagai jaminan hanyalah surat perjanjian pengikatan jual beli (PPJB). Maka dari itu sebelum memutuskan beli rumah atau tanah kami ingin ingatkan untuk mengenal dulu pengembang melalui proyek – proyek yang telah dikerjakan dan lebih berhati – hati terhadap pengembang baru, terutama yang menjanjikan terlalu banyak hal. Jadi sebelum beli rumah atau tanah, pikirkanlah matang – matang tentang hal ini.

Gambar oleh Michal Jarmoluk dari Pixabay

8. Kecepatan Jual

Setelah kita beli rumah atau tanah, seringkali ditengah jalan kita dihadapkan dengan kondisi tidak terduga dimana kita “harus” menjual properti yang telah kita beli karena kita butuh dana. Ini membuat nilai jual dan kecepatan menjual hal yang harus diperhitungkan.

Pada dasarnya, properti bukanlah aset yang memiliki likuiditas (kecepatan menjual) yang tinggi. Biasanya diperlukan waktu sekitar kurang lebih tiga bulan untuk menjual sebuah properti. Secara teknis, menjual rumah lebih mudah dibanding tanah. Ini disebabkan karena menjual rumah jika dilakukan secara kredit dapat melalui bank. Sedangkan ketika menjual tanah, kita tidak mungkin memberikan cicilan karena resikonya tinggi.

Kesimpulan

Setelah mempertimbangkan faktor – faktor yang telah kami bahas, kami berharap informasi yang kami suguhkan bermanfaat bagi anda dalam menentukan mana yang cocok bagi anda antara beli rumah atau tanah. Untuk setiap orang akan berbeda jika dilihat dari tiap faktor dan hanya anda yang dapat menentukan yang terbaik bagi anda.

Baik beli rumah atau tanah masih lebih bagus ketimbang tidak berinvestasi apa – apa, terutama bagi yang belum memiliki properti. Harga properti makin lama makin naik dan waktu yang tepat untuk beli properti adalah kemarin, dan waktu kedua yang tepat adalah sekarang.

Bagi yang berdomisili di Jambi dapat melihat – lihat proyek perumahan kami disini.

HUBUNGI KAMI
Facebook : Perumahan Jambi
Instagram : rumahjambi
Marketing :

0821 8118 2003 (Kevin)
0823 800 900 60 (Yanti)
0823 8574 4500 (Boya)
0823 7504 8879 (Cici)
0812 7155 3316 (Sely)
0821 4233 3388 (Indra)

Categories: Uncategorized

0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *